terkapar

January 18, 2011 § Leave a comment

Baringkan kepala di peraduan, merenung tanpa meratap. Semua yang saya kenal, semua yang saya ketahui, semua itu sudah tidak seperti yang lalu. Bijaknya memang perubahanlah yang abadi. Merelakan semua adalah hal tersulit saat ini. Sepanjang kehidupan tidak diharap, kemudian datang begitu saja. Coba kamu pikir apa yang saya pikir, apa yang saya rasa, dan apa yang saya rencanakan, tentu selain untuk tidak menerimanya. Mengakhiri pun saya telah tergopoh, saya tak mampu. Kehilangan kuasa untuk marah, kehabisan tenaga untuk bersedih, hanya putus asa yang tersisa.

Berjalan sejenak ke arah atap, di atas genting rumah tempat hidup selama dua puluh tahun, saya duduk di atasnya. Tengadahkan kepala, terlihat awan putih di langit biru muda. Sekilas, apa rasanya terkapar beralas awan, tak terbayang betapa kosong atau isinya di atas sana. Kembalikan pandangan ke permukaan bumi yang diselimuti rerumputan berembun. Apa rasanya jika badan terhempas ke tanah berembun itu? Gelincirkan sebagian badan ke bawah, dalam sepersekian detik saya tahu rasanya melayang, punggung saya meluncur di udara. Tanpa memejam mata sedikit pun saya mencoba merasakan setiap sensasi di seluruh tubuh. Kaki saya gatal sejenak, tapi lebih dari itu kaki saya tidak merasakan apa pun untuk sesaat. Hingga sakit yang luar biasa muncul mendadak, tepat di bagian telapak yang beberapa waktu lalu melepuh karena menginjak keramik yang baru dibakar oleh bagian bawah loyang kue. Saya tidak mati, saya masih merasakan sakit. Tuhan masih menginginkan saya hidup, tapi….

untuk apa?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading terkapar at invisible monologue.

meta

%d bloggers like this: