between pity and fear, here comes sadness

January 25, 2011 § 1 Comment

I’m too far away from any solution that normal human could get. My heart too withered to hope into something. My brain freeze since the eyes captured the greatest picture of tragedy can be. I’m broke, both inside and outside. In sort, please say hello to mental breakdown.

Jumping off the rooftop wasn’t enough to reach out death. After that moment, waking up every morning has been the hardest part. Thoughts, so many thoughts. What will happen today? Will anyone notice the scar on my left foot? Will I able to raise my right hand soon? Inside of me, there is a little girl, she is yelling, screaming, and wanting to get rid this tragic life. But, she failed to end it, she is full of helplessness.

Sadly, nothing goes better, I felt on the floor this morning. I woke up and not able to gain my consciousness, I slipped on the wet floor. My back hit the table at the living room and I didn’t know what was happening to my right hand. The only fact I knew that time, my body was paralyzed.

Everybody near me tried to take me to the bed. But, for a half hour, it was no succeeding at all. I was crying so hard, I wanted my mom to come. But what was happening? She wouldn’t even open her room door. She got mad trough since the tragedy happened and I still don’t know how to cheer her up. I couldn’t even to cheer my self up.

Then, I’m trying to walk to my room with both of my senselessness feet. Everyone was starring at me, like I was a pity dead body. At first they were panic, but later they did their own business.  My brother went to campus, my father went to office, my grandmother went to kitchen, and my mother came to me. She said don’t worry, anything will be better; my back will heal itself soon.

3 hours after that, I took my netbook, wrote something about this morning, and feel the pain at my whole body. Do you know what the worst? I don’t want to die, but I don’t know why I should continue my life.

Please, give back my normal life!

 

terkapar

January 18, 2011 § Leave a comment

Baringkan kepala di peraduan, merenung tanpa meratap. Semua yang saya kenal, semua yang saya ketahui, semua itu sudah tidak seperti yang lalu. Bijaknya memang perubahanlah yang abadi. Merelakan semua adalah hal tersulit saat ini. Sepanjang kehidupan tidak diharap, kemudian datang begitu saja. Coba kamu pikir apa yang saya pikir, apa yang saya rasa, dan apa yang saya rencanakan, tentu selain untuk tidak menerimanya. Mengakhiri pun saya telah tergopoh, saya tak mampu. Kehilangan kuasa untuk marah, kehabisan tenaga untuk bersedih, hanya putus asa yang tersisa.

Berjalan sejenak ke arah atap, di atas genting rumah tempat hidup selama dua puluh tahun, saya duduk di atasnya. Tengadahkan kepala, terlihat awan putih di langit biru muda. Sekilas, apa rasanya terkapar beralas awan, tak terbayang betapa kosong atau isinya di atas sana. Kembalikan pandangan ke permukaan bumi yang diselimuti rerumputan berembun. Apa rasanya jika badan terhempas ke tanah berembun itu? Gelincirkan sebagian badan ke bawah, dalam sepersekian detik saya tahu rasanya melayang, punggung saya meluncur di udara. Tanpa memejam mata sedikit pun saya mencoba merasakan setiap sensasi di seluruh tubuh. Kaki saya gatal sejenak, tapi lebih dari itu kaki saya tidak merasakan apa pun untuk sesaat. Hingga sakit yang luar biasa muncul mendadak, tepat di bagian telapak yang beberapa waktu lalu melepuh karena menginjak keramik yang baru dibakar oleh bagian bawah loyang kue. Saya tidak mati, saya masih merasakan sakit. Tuhan masih menginginkan saya hidup, tapi….

untuk apa?

 

terkalang

January 16, 2011 § 1 Comment

Hidup saya sebagai manusia bukan yang ternista saat ini. Masalah yang saya alami bukan juga bagian dari tragedi paling tragis abad ini. Prognosis dari apa yang saya hadapi juga  seharusnya tidak memiliki tendensi untuk menuju Acute Stress Disorder atau depresi mayor, namun saya benar-benar ingin mengakhiri hidup saya saat ini, saya sungguh ingin mati. Saya tidak peduli akan berakhir dimana setelah hidup saya berakhir, sungguh.

Setidaknya kalian harus tahu bukan ini kehidupan yang saya inginkan. Kebohongan, rasa malu, kehilangan, kesulitan tanpa jalan keluar, saya ingin semuanya selesai sampai di satu titik bukan menjadi garis kusut yang berlanjut tak tahu akan berujung dibagian mana. Betapa menyedihkan bahkan kebahagiaan tidak lebih dari sandiwara, hal yang baik berakar dari pura-pura. Untuk apa bertahan? Untuk menambah luka? Ingin menyiram luka dengan air keras agar jadi borok? Jika tidak bisa beritahu apa yang layak atau tidak, semuanya sama buruknya.

Betapa saya tidak menemukan jawaban apa pun dari semua ini, sehingga saya berpikir jika semua tidak berakhir, maka saya saja yang akan berakhir. Saya tidak memiliki waktu dan keinginan untuk menginginkan hal yang saya tidak miliki. Saya tidak pernah atau pun mau untuk berharap pada apapun. Semua pada jalurnya, begitu pun saya. Saya sungguh tidak peduli dengan hal lain. Keluarga lebih berat dari darah yang mengalir dalam diri saya, kemudian darah ini lebih berat daripada teman, tapi teman tetap berarti sesuatu dalam hidup saya.

Akan tetapi apa gunanya teman saat seperti ini? Tidak satu pun dari mereka disini dan mencoba memahaminya. Mereka semua punya kehidupan sendiri dan di dalamnya tidak ada saya. Saya pikir sebagian dari mereka juga tidak akan peduli jika saya berakhir, paling mungkin hanya segelintir tentang saya di timeline twitter selebihnya saya akan dilupakan untuk selamanya.

Apakah ini akan menjadi pilihan saya untuk mengakhiri hidup? Akankah begitu, Gis?

 

a place to go

January 4, 2011 § Leave a comment

Whenever you think you’re all alone and nowhere to go, actually you still have a place to go.

That place is… hell.

Happy new year anyway!

Where Am I?

You are currently viewing the archives for January, 2011 at invisible monologue.