cerita Asteya

May 27, 2010 § Leave a comment

Suatu hari saya bersama Asteya berada dalam sebuah perjalann menuju suatu tempat. Di perjalanan Teya bercerita tentang teman ayahnya, ayah Teya bekerja sebagai Duta Besar Indonesia untuk Swiss.
Cerita paling menarik adalah tentang salah satu teman ayah Teya yang tinggal di Jerman. Teman dari ayah Teya merupakan seorang ilmuwan yang telah hidup lama bersama istrinya. Teya bercerita bahwa sang ilmuwan telah jatuh cinta kepada istrinya semenjak dirinya berusia 13 tahun, ketika itu istrinya baru saja berumur 12 tahun. Setiap kali sang ilmuwan pulang sekolah ia tidak pernah lupa untuk mengajak kakak laki-laki dari perempuan yang disukainya untuk bermain kelereng. Tujuan utamanya bukan bermain, melainkan sekedar melihat perempuan itu.
Waktu pun berlalu mereka beranjak dewasa bersama. Datanglah waktu ketika sang laki-laki mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri sebagai insinyur, sedangkan sang perempuan menempuh pendidikan dokter di sebuah perguruan tinggi negeri terbaik negeri ini pada masa itu. Keduanya pun berjanji untuk saling setia dan menunggu hingga keduanya berhasil menuntaskan pendidikan masing-masing.seiring berjalan waktu keduanya saling setia untuk selalu berkirim-kiriman surat. Saling menceritakan apa saja yang terjadi ketika pasangannya tidak disampingnya. Beberapa tahun kemudian selesai menempuh pendidikan keduanya menikah dan beberapa tahun tinggal di Jerman.
Yang membuat saya merasa cerita luar biasa adalah kesetiaan pasangan tersebut selama bertahun-tahun. Selama ini saya tidak pernah menyangka cerita seluar biasa ini bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saya pikir hal seperti ini hanya terjadi di dalam film Up!, yang akhirnya pun Carl harus kehilangan Ellie.
Kemudian beberapa waktu yang lalu pemberitaan di televisi berbicara tentang betapa kehilangannya Indonesia atas sosok Ibu Ainun. Entah kenapa saya merasa selama membaca ceritanya saya merasa ceritanya makin mirip dengan Up! Dan yang terutama makin mirip dengan cerita ayah Teya. Hingga pada pagi hari kemarin saya melihat sebuah Koran ibu kota dengan artikel yang ditulis oleh Duta Besar Indonesia untuk Swiss yang bercerita tentang perjalanan hidup Pak Habibie dan ibu Ainun.

Whoa! Nampaknya saya sekarang sudah tahu siapa orang yang diceritakan oleh Teya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading cerita Asteya at invisible monologue.

meta

%d bloggers like this: