Almarhum Raden Suwitnyo

March 12, 2010 § 1 Comment

Orang dengan nama di atas adalah eyang buyut kakung dari pihak ibu saya yang sudah meninggal semenjak tahun 1986. Meskipun dia anggota keluarga yang sangat spesial, sudah sperti role model di dalam keluarga, saya sangat kesulitan untuk menemukan fotonya. Saya sempat menemukan sebuah album foto yang berjudul namanya, namun ternyata isinya sekumpulan foto pemakamannya. Saya pun tidak jadi untuk men-scan dan menggugahnya karena nampaknya akan lumayan mengerikan juga membuat sebuah postingan dengan tambahan foto jenazah pria berumur 75 tahun di dalam peti mati. Akan tetapi bila ditelaah lebih jauh cukup menakjubkan juga untuk seseorang memiliki kumpulan foto dalam berbagai suasana, kemudian anggota keluarganya berbagi kumpulan foto tersebut. Selain itu mereka masih mengumpulkan foto di saat meninggal, setidaknya beliau orang yang sangat berarti.

Meskipun beliau sudah tiada, namun semua orang dalam keluarga semuanya mempunyai kesan mendalam yang positif atasnya. Beranjak dari sebuah tugas di kampus, maka saya bertanya kepada ibu saya tentang dirinya. Jawabannya lumayan menakjubkan. Eyang buyut kakung saya adalah seorang bijaksana, pemikir, beliau sering sekali membaca buku sembari merokok. Beliau menyukai buku-buku tentang kenegeraan dan pemerintahan, filsafat, kamus, dan peta. Buktinya semua orang memiliki jawaban yang sama tentangnya, “Eyang pengetahuannya luas, beliau hafal banyak hal bahkan informasi kependudukan dan budaya di negara-negara kecil yang gak orang tahu.” Stunning! Sayangnya hobi membacanya ini berdampak kurang baik  bagi kesehatan matanya sehingga dokter pun sempat menghimbaunya untuk tidak membaca meskipun menggunakan kacamata. Cerdanya beliau tidak kehilangan akal beliau membaca menggunakan loop (kaca pembesar), akhirnya dokternya pun kehilangan akal untuk menasehatinya.

Mengingat hobi eyang buyut kakung saya yang hobi membaca kamus. Saya pun mendadak teringat akan hobi saya yang serupa yaitu membaca kamus bahasa Inggris. Hobi ini berawal ketika saya menemukan sebuah kamus cetakan tahun 1970 oleh Hasan Sadili. Kamus itu kertasnya tua sekali, namun kualitasnya jauh lebih bagus daripada halaman kamus zaman sekarang. Kertasnya berupa kertas berlapis lilin yang akan berubah warna menjadi kecoklatan dimakan zaman, namun tidak mudah rusak. Tidak seperti kertas kamus zaman sekarang, kamus saku Oxford saya lusuh karena tersiram air teh dan kemudian mengembang setelah kering. Kamus itu mengajarkan saya banyak hal semenjak saya baru bisa membaca. Kamus itu adalah bacaan selain majalah bobo yang dibawa ayah pulang kantor setiap Rabu malam. Tidak pernah saya lupa pula nama yang tertera di kamus itu, R. Suwitnyo.

Terima kasih ya,  Eyang buyut kakung.

Advertisements

§ One Response to Almarhum Raden Suwitnyo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Almarhum Raden Suwitnyo at invisible monologue.

meta

%d bloggers like this: