Pandangan Psikologi dan Sosiologi Terhadap Pembentukan Self

June 25, 2009 § 5 Comments

(gue kesel sendiri sama tugas ini, untuk meredam kekesalan gue, maka dari itu gue posting aja deh)

Pengertian Self

Self adalah sebuah identitas yang berkaitan dengan pengembangan diri individu untuk membuat perbedaan yang memisahkan satu individu dengan yang lain. Pembentukkan self berdasarkan pandangan sosiologi, menurut Mead (1972) adalah pengembangan diri manusia melalui beberapa tahap.  Tidak jauh berbeda dengan pandangan dari sisi psikologi dalam implicit personality theory yang menyatakan bahwa apa yang ditampilkan seseorang muncul karena pandangan yang diadopsinya (Dweck, 1996). Implicit personality theory adalah gabungan asumsi yang dimiliki seseorang tentang perbedaan tipe, sifat-sifat kepribadian, dan kegiatan yang berhubungan dengan pengaruh masa kanak-kanak. (Dweck et. al., 1995; Erdley&Dweck, 1993). Hal-hal dari sudut pandang psikologi yang menjadi faktor yang pembentuk self diantaranya adalah judging dan labeling dari lingkungan sekitarnya. Keduanya membahas hal yang menjadikan seorang individu memiliki identitas.

Pembentukan Self dari Pandangan Sosiologi

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menginterpretasikan pemahaman dari kegiatan sosial yang bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang sebab dan akibat (Weber, 1964).

Merujuk kepada pandangan dalam ranah sosiologi, selain self terbentuk berdasarkan beberapa tahap, ada juga pandangan Charles H. Cooley yang memaparkan bahwa konsep diri berkembang melalui interaksi dengan orang lain yang dikenal dengan looking-glass self. Persepsi akan looking-glass self terkait dengan persepsi yang ditangkap seseorang atas dirinya yang berasal dari orang lain dan dirinya, serta perasaan orang lain atas dirinya. Pandangan Cooley ini memiliki kesamaan dengan pandangan Mead dimana pembentukan self berasal dari interaksi sosial.

Pada pandangan oleh Mead pengembangan manusia berlangsung melalui beberapa tahapan, yaitu play, game stage, dan tahap generalized other. Pengembangan diri seseorang melalui peranan yang diambil (role taking) pada setiap kali interaksi dengan orang lain. Melalui tahap pertama, paly stage, anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di  sekitarnya. Pada saat ini seorang anak biasanya meniru tingkah laku orang lain. Seperti bermain dengan meniru peran yang dijalankan ayah, ibu, dokter, atau polisi. Kemungkinan peran yang ditiru tergantung dengan peran apa yang paling sering dilihatnya. Meskipun mereka menirukan apa yang dilakukan, tetapi mereka tidak memahami sepenuhnya untuk apa orang yeng mereka tiru perannya melakukan hal tersebut. Seperti ketika dari mereka menirukan ayahnya yeng pergi untuk berangkat kerja, maka mereka tidak paham untuk apa ayahnya pergi berkerja dan makna lainnya dibalik hal tersebut.

Tahapan selanjutnya adalah game stage,pada saat ini seorang anak memahami peran yang harus dijalankannya dan bagaimana dia menjalakannya dengan lawan ia berinteraksi.  Contoh dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang anak bermain dalam pertandingan bola sebagai seorang penjaga gawang, maka pada saat itu ia mengetahui peranan pemain (pemain, wasit, penjaga gawang) yang lain, baik dari timnya atau pun tim lawan. Menurut Mead seseorang dapat dinyatakan dapat mengambil peranan orang lain.

Menurut Mead, orang-orang yang berperan penting dan  berpengaruh pada masa sosialisasi disebut dengan significant others, seperti orang terdekat dalam keluarga, contohnya ayah dan ibu. Pada tahapan ketiga sosialisasi, seseorang dapat dinyatakan dapat mengambil peranan yang dijalankan oleh orang lain dalam masyarakat, generalized others. Individu dapat berinteraksi karena telah mampu untuk memahami perannya sendiri serta peranan orang lain yang berinteraksi dengannya. Contohnya seorang anak dapat memahami perannya sebagai anak dari orang tuanya di rumah dan sebagai murid ia mampu memahami peran seorang guru yang berinteraksi di sekolah dengannya. Pada tahapan ini seseorang mempunyai suatu diri, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa Mead memaparkan bahwa diri seseorang terbentuk dari interaksi dengan orang lain.

Interaksi dengan orang lain melalui agen-agen sosialisasi, yaitu pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi (Fuller & Jacobs, 1973). Yang termasuk ke dalam agen-agen sosiall, yang biasanya diterapkan di Amerika, yang utama adalah keluarga, kelompok bermain, media massa, dan sistem pendidikan.  Pada keluarga biasanya yang masuk dalam ruang lingkup utamanya adalah orang tua dan saudara kandung, meskipun begitu terjadi kecenderungan bergesernya agen sosialisasi yang utama ini. Contohnya di kota besar banyak orang tua dengan mobilitas tinggi sehingga menitipkan anak pada pembantu. Sehingga pembantu memerankan peranan penting sebagai agen sosialisasi. Agen sosialisasi yang menjembatani anak masuk ke tahapan play stage.

Teman bermain merupakan agen sosialisasi selanjutnya biasanya yang termasuk adalah teman sekolah, tetangga, atau keluarga yang hubungannya tidak setingkat (orang tua-anak,, paman-keponakan, atau kakek-cucu). Pada agen sosialisasi ini anak mempelajari kemampuan baru. Pada agen sosialisasi ini anak memasuki tahapan game stage. Agen sosialisasi berikutnya adalah sistem pendidikan, yang biasanya lebih erat kaitannya dengan sistem pendidikan formal, yaitu sekolah. Selain dari pelajaran yang dipelajari, sekolah mengajarkan hal lain yang tidak diajarkan agen–agen sosialisasi sebelumnya. Menurut Robert Dreeben (1986), sekolah mengajarkan kemandirian, prestasi, universalisme, dan spesifitas. Pelajaran yang diungkapkan oleh Dreeben memang diberikan di sekolah, walaupun tidak secara langsung. Banyak hal yang dapat membawa anak kepada pengajaran tersebut seperti rangking di kelas, keharusan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, perlakuan sama yang ia dapat di sekolah, dan keanekaragaman mata pelajaran yang ada.

Light, Keller, dan Calhoun (1989) memaparkan agen sosialisasi selanjutnya adalah media massa, yang termasuk kategori media massa adalah media cetak (surat kabar, majalah) maupun media elektronik (radio, televisi, video, film, kaset, CD). Perlu ditambahkan media elektronik yang terkini dan mengalami perkembangan, yaitu internet. Media massa adalah agen sosialisasi yang dapat menghimpun banyak orang untuk menyampaikan satu informasi. Pesan yang disampaikan dapat bermuatan sosial dan anti-sosial. Sampai pada tahun 1973, Fuller dan Jacobs belum dapat memastikan dampak signifikan yang disebabkan dari menonton televisi pada anak. Hingga pada tahun 1992, studi yang dilakukan oleh Norman K. Meyrowitz, memberikan gambaran bahwa televise memiliki kemampuan untuk mempangaruhi sensibilitas penontonnya. Selain itu muncul juga kekerasan pada tayangan anak-anak, seperti yang muncul dalam film kartun Tom&Jerry. Hal ini dapat memberikan dampak negatif kepada anak. Meskipun begitu masih ada tayangan edukatif tersedia di televisi seperti tayangan anak-anak yang mengajarkan hal-hal tertentu, seperti menyanyi, membaca, atau belajar bahasa inggris. Namun semenjak berkembangnya internet, televise berkurang porsinya, sebab banyak yeng beralih kepada internet. Disini agen sosialisasi keluarga berperan memberikan pengawasan. Agar anak dapat belajar menyaring informasi yang didapatkannya.

Pembentukan Self dari Pandangan Psikologi

Psikologi adalah studi ilmiah tentang tingkah laku dan proses mental. Dimana tingkah laku termasuk di dalamnya adalah aksi dan reaksi yang muncul seperti, bicara, ekspresi wajah, dan pergerakan. Sementara itu proses mental terkait dengan segala hal yang sifatnya internal, aktivitas yang tidak terlihat dari pikiran, seperti berpikir, merasa, dan mengingat. (Ciccarelli, 2006).

Sebelumnya telah dipaparkan tentang pandangan psikologi mengenai self yang berkaitan dengan teori kepribadian implisit. Contoh  bagian masyarakat yang memiliki pemahaman akan teori kepribadian implisit adalah orang-orang yang percaya bahwa orang-orang yang bahagia biasanya akan menjadi ramah dan orang yang pendiam adalah orang yang pemalu. Menurut Piaget, meskipun asumsi atau hal yang mereka percaya tersebut tidak sepenuhnya benar, sebab mungkin ada faktor lain yang mempengaruhi, namun ini membantu mereka untuk membentuk suatu konsep yang merepresentasikan bagaimana kategori tipe orang tertentu. Sayangnya hal ini dapat dengan mudah membentuk sebuah stereotype, jika orang tersebut tidak memiliki banyak pengalaman bertemu orang lain yang berbeda darinya, seperti warna kulit dan karakteristik fisik yang berbeda darinya (Levy, 1998).

Beberapa bukti menyatakan bahwa ada perbedaan dalam teori kepribadian implisit di berbagai negara. Hal ini disebabkan faktor kultural dan individual yang berbeda. Dapat dicontohkan dari hasil penilitian di dua negara yang berbeda dari dua benua yang berbeda , yaitu Amerika dan Hongkong (keturunan Cina), mengenai kepribadian. Responden dalam penilitia diberikan pertanyaan tentang seberapa mungkin kepribadiaan pada individu dapat berubah.  Responden dari Amerika menyatakan bahwa kepribadian seseorang relatif tetap dan tidak berubah.  Sedangkan orang Cina yang tinggal di Hongkong memiliki asumsi bahwa kepribadian sifatnya dapat berubah(Chiu et al., 1997).

Ada pula aspek sosial lain yang berkaitan dengan kognisi untuk menjelaskan tingkah laku dari orang lain. Seperti pada saat seorang melihat tingkah laku orang lain, maka ia akan berpikir alasan dari tingkah laku tersebut. Hal adalah bagian alamiah seseorang sebian berasal dari rasa ingin tahu untuk menjelaskan satu hal dan apabila mereka tidaka menemukan jawaban yang jelas, maka mereka akan membuat alasan dengan pemikirannya sendiri. Penjelasan dari proses tentang alasan kita melakukan diri sendiri dan orang lain melakukan suatu tingkah laku disebut attribution.

Attribution theory dikembangkan pertama kali oleh psikolog sosial, Frietz Heider (1958), teori bukan hanya sebagai penjelasan mengapa mereka melakukan hal tersebut, tapi juga memberikan penjelasan umum dari tingkah laku tersebut. Penyebab tingkah laku dibagi menjadi dua yaitu dari eksternal dan individual. Penyebab eksternal bisa berupa akibat dari cuaca, kemacetan, kesempatan pendidikan, dan lain-lain, hal ini biasa disebut dengan kasus situasional. Contohnya adalah ketika seseorang terlambat karena mengalami kemacetan di jalan. Penyebab individual berhubungan dengan karakteristik kepribadian yang ditemukan berdasarkan observasi tingkah laku, disebut juga penyebab disposisional. Contohnya seseorang datang terlambat karena dirinya malas untuk bangun lebih pagi. Selain itu pandangan berdasar attribution theory biasanya memiliki keterikatan emosional, misalnya seseorang melakukan hal yang salah karena mengalami hari yang kurang baik.

Ada pula yang disebut dengan  fundamental attribution theory, yaitu tendensi orang-orang untuk lebih percaya terhadap pengaruh karakteristik internal seseorang dibandingkan pada kondisi yang ada terhadap muculnya satu perilaku. Dengan kata lain mereka lebih percaya terhadap hal yang membuat orang melakukan sesuatu karena apa yang ada di dalam dirinya, tipe orang tertentu, dibandingkan faktor luar atau situasi yang membuat orang berlaku seperti itu (Harman, 1999; Jones & Harris, 1967; Weiner, 1985).  Contohnya seorang yang lebih percaya bahwa anak yang mendapat nilai jelek pada ulangan adalah anak yang bodoh, bukan karena kemungkinan anak itu tidak belajar atau sedang sakit sehingga tidak dapat mengerjakan soal ulangan.

Menurut Dweck hal lain yang mempengaruhi pembentukkan self dapat terjadi karena judging dan labeling. Pada proses judging seseorang cenderung memberikan perbandingan dengan orang lain. Melalui interaksi yang dilakukan dengan orang lain mereka perbandingan untuk melakukan pengukuran untuk satu kriteria tertentu. Hal yang biasanya dibandingkan adalah  kecerdasan, kepribadian, dan karakter. Menyangkut kecerdasan biasanya judging yang ada berdasarkan atas keberhasilan atau kegagalan yang didapatkan. Pada penelitian yang dilakukan Gail Heyman dan Carols Dweck (1998), mereka menanyakan beberapa anak sekolah tentang siapa saja teman sekelas mereka yang dinilai memiliki nilai bagus dalam mengerjakan tugas dan kenapa mereka berpikir orang-orang itu memiliki kemampuan seperti itu. Beberapa diantaranya memberikan jawaban bahwa orang yang mereka anggap pintar memang pada dasarnya sudah pintar dan itu terjadi begitu saja. Mereka memberikan penilaian meninjau dari aspek kebiasaan, konsentrasi, kemampuan menghadapi masalah, dan motivasi. Semua itu cenderung mengarah kepada keberhasilan. Sementara jika dibandingkan dengan studi dengan pertanyaan yang menanyakan siapa saja teman sekelas mereka yang mendapat nilai kurang bagus, mereka menyatakan bahwa mereka adalah orang yang gagal dalam pelajaran. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan dinilai dengan mengukur keberhasilan yang diraih, terutama dalam hal akademisi.

Pada proses labeling kemampuan persuasive orang lain memiliki andil. Opini yang terbentuk pada diri seseorang yang berasal dari orang lain dapat menjadikan orang tersebut seperti apa yang di dalam opini orang lain. Impresi mempengaruhi untuk menilai orang lain. Seperti pada studi yang dikemukan oleh Chiu (1997) bahwa kita dapat merubah teori implisit, sekaligus untuk merubah tendensi perkiraan sifat yang muncul dari lawan berinteraksi.

Perbandingan Pandangan Psikologi dan Sosiologi Dalam Pembentukkan Self

Dari pengertian keduanya, Psikologi dan Sosiologi, dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki sedikit perbedaan kajian. Sosiologi memandang objek kajiannya dengan kegiatan sosial, sedangkan psikologi meninjau proses yang terjadi yang berhubungan dengan kejiwaan manusia. Namun, sebagai ilmu pengetahuan keduanya berkesinambungan dan saling mempengaruhi. Bagaimana mereka memandang pembentukkan self juga memiliki kesamaan, yaitu berasal dari interaksi sosial dengan sekitarnya.

Mengingat keduanya adalah ilmu yang berbeda, tentu saja keduanya juga memiliki perbedaan. Sosiologi memandang bahwa pembentukkan self terjadi secara bertahap dengan mempelajari kemampuan baru melalui agen sosial. Psikologi memandang pembentukan self pandangan orang lain yang memberikan pengaruh. Pada tinjauan psikologi, self dipengaruhi dua hal, yang bersifat bawaan berupa sifat di dalam diri seseorang dan suatu hal yang sifatnya situasional. Selain itu juga ada judging dan labeling yang memberikan pengaruh dalam membentuk self sebagai representasi diri dari orang lain, sebenarnya hal ini hampir sama dengan teori sosiologi mengenai looking glass self. Hal yang dibicarakan relatif sama, yaitu mengenai asumsi.

Perbedaan lain dari keduanya, dimana sosiologi memberikan istilah khusus dengan mengkategorikan lawan interaksi ke dalam agen-agen sosial, sedangkan psikologi menggeneralisasikannya. Secara garis besar perbedaan lainnya juga ditunjukkan dengan sosiologi memandang pembetukkan self drai faktor sosial dan eksternal, sedangkan dari pandangan psikologi juga diiringi dengan faktor dalam diri orang tersebut. Dapat dilihat keterkaitan keduanya dalam membahas self, dimana teori yang ada saling mendukung dalam pembentukkan self.

Referensi

Ciccarelli, S. K., & Meyer, G. E. (2006). Psychology. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Dweck, S. C. (2000). Self-Theories. Philadelphia: Psychology Press.

Lisus, N. A., & Ericson, R. V. (1995). The Effect of Television Format on Holocaust Remembrance. The British Journal of Sociology , 46, 1-19.

Sunarto, K. (2000). Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Advertisements

Tagged:

§ 5 Responses to Pandangan Psikologi dan Sosiologi Terhadap Pembentukan Self

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pandangan Psikologi dan Sosiologi Terhadap Pembentukan Self at invisible monologue.

meta

%d bloggers like this: